Search the Topic You Want

Jumat, 22 Mei 2015

Hanson Abraham                                                 
1801378184
Rabu, 20 Mei 2015
Pendidikan Anak Usia Dini (PAUD)

 Day 1

            Hari pertama ku mulai dengan tepat waktu. Tak lama setelah aku tiba, beberapa siswa PAUD Tunas Melati berdatangan didampingi orang tuanya. Sambil menunggu Ibu Guru datang, mereka bermain kejar-kejaran, perosotan, dan kursi ayun. Semua fasilitas permainan dan lingkungan di PAUD tersebut sangat bersahabat dan aman untuk anak-anak. Aku memasuki sekolah PAUD dan  duduk menunggu di serambi depan. Sembari bermain, beberapa dari orang tua mereka dan siswa PAUD melihat ku dengan penuh heran. Aku berusaha membuat suasana yang bersahabat dengan mereka. Aku mulai menyapa mereka dan membantu anak-anak bermain.

            “Ibu Guru datang!”, teriak anak-anak. Dengan bahagia, mereka menyambut sang guru favorit mereka. Ibu Guru  balas menyapa dan menghantarkan mereka masuk ke kelas. Di saat setengah dari anak-anak masuk, Ibu Guru melihatku dan bertanya,  “Proposalnya sudah ?”. Aku mengiyakan dan menunggu di luar sampai kelas dimulai.

            Tepat pukul 8 pagi, kelas dimulai. Di dalam kelas, Bunda(Pemilik PAUD) dan Ibu Guru mengajak ku masuk. Aku duduk di dalam kelas dan melihat mereka berdua membimbing anak-anak. Mereka mengawali pelajaran dengan doa yang dilantunkan dalam nyanyian. Aku tersenyum melihat kelakuan mereka yang tidak bisa diam dan terus bercanda dengan teman-temannya. Bunda yang memimpin doa tersebut selalu dibantu oleh Ibu Guru dalam merapikan barisan anak-anak. Teman ku datang menyusul dan memasuki kelas. Kami berdua menunggu di dalam kelas. Selama kurang lebih 30 menit, Bunda, Ibu Guru, dan anak-anak diajarkan berolahraga agar tubuh lebih bugar. Usai berolahraga, Bunda memanggil kami untuk memperkenalkan diri kepada anak-anak. Aku sedikit canggung, tak tahu harus berkenalan dengan cara apa. Sulit bagiku untuk memperkenalkan diri pada anak-anak usia dini. Aku memperkenalkan diri dengan menyampurkan sedikit candaan. Tampak dari wajah mereka, masih merasa asing dengan ku. Setelah kami memperkenalkan diri,  Bunda dan Ibu Guru memulai pengajaran mereka. Kami berperan sebagai asisten dalam membantu anak-anak yang kesulitan mengerjakan tugas. Mereka diminta untuk menulis angka 10, menghitung benda, dan mewarnai. Walau kelas sudah dimulai, ternyata tak selancar yang ku kira. Di tengah pelajaran, ada yang berlari ke nenek nya, mengobrol dengan teman sebelah, dll. Kami membantu menertibkan mereka, lalu mulai meraut pensil dan mengajarkan mereka menulis angka. Sampai mereka lancar menulis, aku berpindah ke anak-anak yang belajar mewarnai. Aku membantu mereka meraut pensil warna dan menunjukkan cara mewarnai yang benar.

            Sempat terjadi kesulitan dalam mengajarkan mereka membaca dan mengingat abjad. Anak-anak juga masih asing dengan perbandingan angka, seperti lebih besar, lebih kecil, dan sama dengan. Kami sempat kebingungan, harus mengajar dengan cara apa. Mereka sangat terbiasa dengan nyanyian, tapi kami juga tidak ahli dalam membuat lagu.

            Di saat-saat terakhir, kami yang senantiasa dibantu Bunda, mulai terbiasa dengan suasana mengajar anak usia dini. Kami sudah bisa memulai perkenalan, pembicaraan, dan bahkan candaan. Hal yang sangat berkesan bagi kami.

             Aku sangat senang diberi kesempatan mengajar oleh Bunda. Bunda, sosok yang sangat dihargai di daerah itu. Beliau lebih mengemban pendidikan ketimbang biaya yang harus dibayar. Bunda juga mampu mendekatkan diri kepada anak-anak layaknya anak kandung secara alami. Dari sosok seorang Bunda, di situlah kami mendapat nilai berharga Pancasila, demi menciptakan kesejahteraan sosial dengan meningkatkan pendidikan bangsa.