1801378184
Rabu,
20 Mei 2015
Pendidikan
Anak Usia Dini (PAUD)
Day
1
Hari pertama ku mulai dengan tepat waktu. Tak lama
setelah aku tiba, beberapa siswa PAUD Tunas Melati berdatangan didampingi orang
tuanya. Sambil menunggu Ibu Guru datang, mereka bermain kejar-kejaran,
perosotan, dan kursi ayun. Semua fasilitas permainan dan lingkungan di PAUD
tersebut sangat bersahabat dan aman untuk anak-anak. Aku memasuki sekolah PAUD
dan duduk menunggu di serambi depan.
Sembari bermain, beberapa dari orang tua mereka dan siswa PAUD melihat ku
dengan penuh heran. Aku berusaha membuat suasana yang bersahabat dengan mereka.
Aku mulai menyapa mereka dan membantu anak-anak bermain.
“Ibu Guru datang!”, teriak anak-anak. Dengan bahagia,
mereka menyambut sang guru favorit mereka. Ibu Guru balas menyapa dan menghantarkan mereka masuk
ke kelas. Di saat setengah dari anak-anak masuk, Ibu Guru melihatku dan
bertanya, “Proposalnya sudah ?”. Aku
mengiyakan dan menunggu di luar sampai kelas dimulai.
Tepat pukul 8 pagi, kelas dimulai. Di dalam kelas,
Bunda(Pemilik PAUD) dan Ibu Guru mengajak ku masuk. Aku duduk di dalam kelas
dan melihat mereka berdua membimbing anak-anak. Mereka mengawali pelajaran
dengan doa yang dilantunkan dalam nyanyian. Aku tersenyum melihat kelakuan
mereka yang tidak bisa diam dan terus bercanda dengan teman-temannya. Bunda
yang memimpin doa tersebut selalu dibantu oleh Ibu Guru dalam merapikan barisan
anak-anak. Teman ku datang menyusul dan memasuki kelas. Kami berdua menunggu di
dalam kelas. Selama kurang lebih 30 menit, Bunda, Ibu Guru, dan anak-anak
diajarkan berolahraga agar tubuh lebih bugar. Usai berolahraga, Bunda memanggil
kami untuk memperkenalkan diri kepada anak-anak. Aku sedikit canggung, tak tahu
harus berkenalan dengan cara apa. Sulit bagiku untuk memperkenalkan diri pada
anak-anak usia dini. Aku memperkenalkan diri dengan menyampurkan sedikit
candaan. Tampak dari wajah mereka, masih merasa asing dengan ku. Setelah kami memperkenalkan
diri, Bunda dan Ibu Guru memulai
pengajaran mereka. Kami berperan sebagai asisten dalam membantu anak-anak yang
kesulitan mengerjakan tugas. Mereka diminta untuk menulis angka 10, menghitung
benda, dan mewarnai. Walau kelas sudah dimulai, ternyata tak selancar yang ku
kira. Di tengah pelajaran, ada yang berlari ke nenek nya, mengobrol dengan
teman sebelah, dll. Kami membantu menertibkan mereka, lalu mulai meraut pensil
dan mengajarkan mereka menulis angka. Sampai mereka lancar menulis, aku
berpindah ke anak-anak yang belajar mewarnai. Aku membantu mereka meraut pensil
warna dan menunjukkan cara mewarnai yang benar.
Sempat terjadi kesulitan dalam mengajarkan mereka membaca
dan mengingat abjad. Anak-anak juga masih asing dengan perbandingan angka,
seperti lebih besar, lebih kecil, dan sama dengan. Kami sempat kebingungan,
harus mengajar dengan cara apa. Mereka sangat terbiasa dengan nyanyian, tapi
kami juga tidak ahli dalam membuat lagu.
Di saat-saat terakhir, kami yang senantiasa dibantu
Bunda, mulai terbiasa dengan suasana mengajar anak usia dini. Kami sudah bisa
memulai perkenalan, pembicaraan, dan bahkan candaan. Hal yang sangat berkesan
bagi kami.
Aku sangat senang
diberi kesempatan mengajar oleh Bunda. Bunda, sosok yang sangat dihargai di
daerah itu. Beliau lebih mengemban pendidikan ketimbang biaya yang harus
dibayar. Bunda juga mampu mendekatkan diri kepada anak-anak layaknya anak
kandung secara alami. Dari sosok seorang Bunda, di situlah kami mendapat nilai
berharga Pancasila, demi menciptakan kesejahteraan sosial dengan meningkatkan
pendidikan bangsa.


Tidak ada komentar:
Posting Komentar