Search the Topic You Want

Sabtu, 13 Juni 2015

Hanson Abraham                                                 
1801378184
Kamis, 11 Juni 2015
Pendidikan Anak Usia Dini (PAUD)


Day 6
            Hari ini, aku datang lebih awal. Pintu depan PAUD yang tadinya rusak, telah dibetulkan oleh Bunda. Salah satu orang tua murid datang dan melihat pintu masih tertutup. Ia berjalan ke belakang dan memberitahu Bunda untuk membuka pintu. Setelah pintu dibuka, kami masuk ke dalam. Sambil menunggu, aku bermain-main dengan anak yang sudah datang. Beberapa dari mereka menantikan game di smartphone ku. Aku berusaha mengurangi aktifitas mereka dalam bermain game handphone, karena membuat mereka tidak berinteraksi dengan sesama nya. Saat ibu guru datang, tak lupa mereka memberi salam lalu kembali bermain sambil menunggu bel masuk dibunyikan.
            Aku sempat membawakan mereka cerita dari buku yang telah tersedia di rak PAUD. Buku tersebut penuh dengan gambar yang membuat mereka penasaran. Kami sempat bermain tebak-tebakan dan membaca cerita bersama. Tak lama, suara-suara lucu terdengar…pertanda bel masuk. Tak seperti biasanya, anak-anak yang datang hanya berjumlah 6 orang. Banyak dari antara mereka yang datang terlambat. Ibu guru segera memulai kelas dengan lantunan doa lalu  dilanjutkan dengan sesi hitung-mewarnai. Anak-anak yang baru memasuki PAUD, diberikan tugas mewarnai dan menghitung gambar balon. Sementara, anak yang sebentar lagi memasuki SD diberi tugas untuk mewarnai, menghitung, dan menulis.
            Kelas berlangsung ramai, aku turut membantu anak-anak yang kesulitan dan lambat mengerjakan tugas tersebut. Lucunya, ada yang iri karena aku hanya membantu beberapa anak saja. Agar menghilangkan rasa tersebut, aku membantu mereka menulis dan membaca. Masih ada anak-anak yang sulit diatur sehingga Ibu Guru pun harus turun tangan mengajari mereka.
            Seiring berjalannya waktu, kami semakin dekat. Begitu banyak waktu yang kami habiskan bersama, tak hanya pada pemberian materi, tapi juga ketika bermain dan bersenang-senang. Sekarang, aku mengerti bahwa seseorang mampu mengajar dengan tulus apabila Ia menganggap murid-murid sebagai miliknya, anaknya sendiri. Akhirnya, timbul lah rasa memiliki dan keinginan untuk membuat mereka menjadi lebih baik.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar