Search the Topic You Want

Sabtu, 13 Juni 2015

Hanson Abraham                                                 
1801378184
Rabu, 10 Juni 2015
Pendidikan Anak Usia Dini (PAUD)


 Day 5
            Sudah memasuki hari kelima, mengajar di PAUD Tunas Melati seakan sudah mengendap menjadi jadwal rutin ku. Aku datang cukup pagi dan memasuki pintu PAUD.  Sudah beberapa anak datang dan bermain-main di kursi ayun dan perosotan. Aku pun ikut bermain meramaikan suasana. Ketika Ibu Guru datang, beliau selalu disambut ramah oleh anak-anak. Beliau seperti tokoh favorit mereka.
            Setelah bel masuk berbunyi, anak-anak segera berlarian memasuki kelas. Anak-anak mengawali aktivitas dengan lantunan doa, pembacaan Pancasila, dan menyanyikan Indonesia raya. Karena daya saing yang tinggi, seringkali mereka mengadu suara untuk menunjukkan siapa yang memiliki suara terkeras. Ibu guru seringkali menegur anak-anak untuk tidak berteriak. Setelah kegiatan pembukaan selesai, mereka segera berbaris untuk berolah raga. Berhubung tidak hadirnya Bunda, olah raga berlangsung singkat dan padat. Setelah tubuh anak-anak dibugarkan, Ibu Guru memberikan tugas mewarnai berbagai bentuk bidang sederhana, seperti segitiga, lingkaran, persegi, dll untuk anak-anak yang paling kecil. Sementara itu, anak-anak yang sudah besar diberikan tugas mewarnai bidang dan berhitung.
            Aktifitas PAUD selalu berlangsung menyenangkan. Ada saja kejadian yang lucu dan konyol, seperti candaan di antara anak-anak, pembicaraan mereka yang masih polos, bahkan sampai ada yang berlari-larian. Aku membayangkan betapa sulitnya Ibu Guru menertibkan mereka sendirian. Biasanya, aku berkeliling dan membantu anak-anak yang kurang rapi dan lambat mewarnai. Sementara itu, teman-temanku yang lain mengajarkan cara membaca dan menulis angka-alfabet.
            Dilihat dari jadwal belajar PAUD, memang lebih ditekankan pada rekreasi anak-anak. Segala materi yang diberikan selalu dikemas dalam suatu hal yang menarik perhatian anak-anak. Dari anak usia dini hingga orang tua, kita semua lebih mudah menyerap pelajaran dengan contoh yang nyata. Bila dilihat dari segi karakter, tentulah setiap pengajar dan orang tua harus memberikan teladan dan contoh perbuatan baik yang nyata hingga kelak mereka menjadi anak yang berakhlak mulia.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar